Label

Minggu, 27 Januari 2013

"Aku Tak Seberuntung Mereka"

Aku terbangun dari kotor dan dinginnya bawah jembatan ini. Begitu juga dari suara-suara kendaraan bermotor yang silih berganti. Tapi ini sudah biasa bagiku. Ketika kubuka mata ini, pikiran dan perutku seakan mengerti. Saatnya kucari sesuap nasi. Menelusuri rimba rayanya kota, tertatih pada rintih kaki dan berpeluh pada guritan derita.
Kakiku terus melangkah, sementara perutku pun terus mendendangkan lagu keroncongnya. Kutilik dibalik rumah mewah itu. Bahagia sekali, mereka sarapan pagi bersama dengan makanan telah tersaji diatas meja. Sementara aku?? Berapa kilometer lagi harus kutempuh?? “Aku tak seberuntung mereka”.


Di teriknya matahari yang seakan ingin membakar kulitku, aku harus mengais rejeki. Di jalanan, di perempatan, di warung-warung, tak peduli betapa teriknya siang ini. Dengan lagu kudendangkan juga dengan tangan menengadah. Pengemis, pengamen, mungkin itu kata yang lebih tepat. Anak jalanan, anak terlantar, apapun kata mereka aku tak peduli. Buat aku yang terpenting adalah bagaimana menyambung nyawaku.
Kutengok di balik gedung itu. Nyamannya mereka, tidak kepanasan, duduk disana, mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman pula. Inginnya aku bersekolah. Tapi uang dari mana? Bagaimana bisa? Kalaupun telah ada sekolah gratis, belum tentu yang lainnya gratis. Kalaupun aku sekolah, bagaimana aku bisa mencari sesuap nasi? Sekali lagi aku harus berkata, “Aku tak seberuntung mereka”.

Lalu ketika senja tiba. Kutahu hari kan gelap. Gelap pula harapanku, ku tahu malam ini aku harus tidur di emperan toko, di kolong langit, bahkan di kolong jembatan. Tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti. Hujankah? Hemmm… hujan? Dinginnya malam adalah selimutku.  Kardus bekas adalah kasurku. Tak ada bantal dan guling untukku.
Guling dan bantalku telah mati. Diambil Tuhan, bahkan disaat aku ingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan dan dingin yang menusuk kalbu. Sementara aku disini, anak-anak lain tidur menggunakan kasur, selimut tebal, bahkan hangatnya pelukan orang tua. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus berkata “Aku tak seberuntung mereka” .

Ibu, ingin ku mengadu. Mereka bilang aku anak terlantar, mereka bilang aku anak jalan yang tak pantas jadi teman mereka. Mendekat saja mereka tak mau. Ibu…temanku hanya kepahitan hidup. Isak tangis kutahan, senyum palsu kuperlihatkan. Ingin kutunjukan ketegaran pada diriku, meskipun sebenarnya aku rapuh.
Miris… melihat mereka menapaki kepahitan hidup. Tak ada yang peduli, bahkan menganggapnya jijik. Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara, jelas tertera dalam UUD 1945. Namun, faktanya tidak seperti itu. Mereka dipinggirkan oleh Negara, bahkan diliriknya saja tidak. Apa pemerintah lupa? Ataukah hanya berpura-pura?

Anak terlantar (anak jalanan) justru diperlihara oleh Babeh. Mereka mendapat perlakuan buruk, disodomi, tempat pelampiasan nafsu seksnya. Kejahatan terhadap anak-anak jalanan kerap terjadi. Dan pemerintah seakan-akan  pura-pura, alih-alih memelihara anak terlantar, pemerintah malah memelihara para koruptor.
Harapanku untuk Indonesiaku adalah agar pemerintah benar-benar mencerna dan memahami redaksional dari pasal 34 ayat 1 UUD 45 yang berbunyi “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.  Agar mereka mendapatkan perlindungan yang lebih baik.

Sabtu, 26 Januari 2013

" AKU PASTI BISA"



Sangat ingin rasa mempunayi sebuah laptop dan ingin belajar tetang penulisan cerpen, dan ingin belajar lebih banyak lagi, "ujar" Seorang teman yang pernah diajarkan dengan  teman jurnalis  pangkep, tentang penulisan yang benar dan berbahasa yang baik kesemua orang.selama ini aku hanya bisa menulis dengan pensil dengan buku Tulis. tapi. Malam ini aku hanya termenung di depan komputer temanku. Tak seperti biasanya. Biasanya aku datang ke rumah temanku itu hanya untuk menulis. Selalu berjalan biasa, aku selalu menulis. Menulis cerpen, terkadang. Merangkai kata menjadi puisi, ini yang sering. Tak lebih. Tapi, kali ini aku tak bisa. Imajinasiku seakan tumpul. Otakku tak mengalir deras seperti biasanya. Dan aku hanya termenung. Iya! Begitu saja. Tak lebih. Juga tak kurang. "Aku Pasti Bisa"




Sudah beberapa lama aku menulis cerita hidup yang aku alami, tetapi aku ragu untuk menerbitkan cerita tetang hidup ini kemedia. namun ada seorang teman yang pernah mengatakan tetang rasa keraguan,  jangan pernah ragu untuk dikenal dimedia. kalo memang karya tersendiri kita, kenapa mesti ada keraguan didalam diri kita. mestinya kita harus berani untuk menulis apa yang terajdi saat kita ada diluar. "Aku Pasti Bisa"

Aku pun tak mau pusing. Aku mengikuti khayalan buntuku. Kalau memang tak ada ide tak apaapa. Menurutku tak harus marah pada diri yang memang mungkin sedang ingin istirahat. Sedang tak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk aku dan keinginanku yang sering kali memforsirnya. Tak mau tahu dengan capeknya. Mengacuhkan waktu istirahatnya tanpa membuatkan jadwal. "Aku Pasti Bisa"

Tapi harus banyak dilanjut lagi menulis, istirahat sudah taratur, makanan juga sudah dicicipi. apa lagi yang kita pikirkan. owh yang aku pikirkan tentang  penulisan cerpen cerita hidupku. selama ini yang aku inginkan hanya jadi penulis yang terbaik di indonesia bukan cuma disulsel saja saya ingin dikenal, tetapi sampai sabang sampai maroke. "Aku Pasti Bisa"

Aku kembali ke tempat semula. Depan laptop temanku. Ah, ternyata otakku masih buntu. “Atau aku nulis kisah orang barusan itu. Orang misterius bin aneh. Mau curhat saja harus ke orang yang tak dikenalnya. Untung ketemu sama orang seperti saya. Orang yang sangat mengedepan kepentingan orang lain. Hmm … sombongku kumat lagi”

Kuikuti usul batin barusan. Jemariku mengetik cepat seperti mentari mencakar kulitkulit permukaan bumi dengan panasnya. Atau seperti tusukantusukan kukukuku dingin pada musim dingin yang menembus lapisan bajuku walau tiga “berakhiran” jaket “berbumbu” bulubulu. Entah bulu apa. Dia tak kelihatan. Juga tak sempat tanya waktu dulu membelinya di sebuah toko pasar Sentral pangkep.

Tulisanku mengalir deras. Baru kali ini aku menulis dari kisah nyata. Bagiku, menulis cerpen kisah nyata itu tak kreatif. Letak kreatifitasnya dimana coba? Hanya menyalin. Tapi, aku pernah membaca sebuah buku panduan tentang kepenulisan. Dalam buku itu dipaparkan penulis penulis terkenal sekaligus sebagian kecil tulisannya. Sekali lagi, dalam buku itu aku temukan penulis terkenal bernama … ah, aku lupa. Dan yang aku ingat, bahwa dia sering menulis dari kisah nyata yang dirubah menjadi fiktif. Biasanya yang dia rubah adalah konflik dan setting.

Ya! Biarlah malam ini aku menulis kisah nyata itu. Akan kuikuti cara penulis terkenal yang kulupakan namanya itu."Aku Pasti Bisa"

Kini aku sibuk menghapus tulisan yang baru kutulis itu. Hanya masih dua lembar. Font 12. Dan spasi 1,5. Sebenarnya ada rasa sayang menelikung. Tapi, biarlah. Bukankah itu hanya salinan. Bukan hasil imajinasi yang     menyerpih di jalanjalan berdebu. Atau pada angin malam. Atau dalam sepi. Juga dalam tertawa keramaian di antara goyonan teman teman.

Aku rubah kisah tamuku yang barusan pulang. Aku menjadikannya fiktif. Terang saja, aku tak benarbenar merubahnya. Hanya menambahkan. Bukankah dia tadi belum menemukan jalan keluarnya? Nah, dalam tulisanku itu, aku ceritakan kalau dia sudah menemukan solusi. Dan dia pun menjadi betah menikmati rumahnya sendiri. Tidak lagi seperti angin yang menyemilir. Bukan lagi air yang terus mengalir mengikuti kelok sungai.

Dia kukisahkan sebagai burung Camar yang terbang tinggi, tapi pasti kembali ke pinggir laut yang membiru. Kembali menikmati hidangan Tuhan yang berserakan di antara pinggiranpinggiran pantai. Camar itu tersenyum. Sesekali menengadah ke hamparan langit luas yang juga membiru seperti hamparan laut. Seakan mengabari langit “Di pantai ini aku mengingatmu. Saat aku bermain denganmu, aku mengenang pantai tempat asalku mendatangimu.”Aku Pasti Bisa".

Si tamu yang sangat senang menatap mataku itu kini menikah. Pernikahan itulah yang telah merubahnya. Seakan mengikat dalam tenang. Karena dia sudah menikmati rumahnya yang berpayung rumah tangga. Dia tak lagi menangis. Malah senyum terukir manis.

Kini, aku sudah selesai menulis cerpenku. Aku termenung di depan Laptop temanku itu. Melihat dan mengoreksi hasil tulisanku itu. Sebenarnya aku salah. Karena menurut temanku yang sudah jago menulis, “setelah kau selesai menulis, simpan dulu. Harus diinkubasi. Jangan langsung diedit.” Katanya yang kuikuti dengan anggukan kepalaku yang seakan patuh.

Biasanya aku memang patuh. Tapi, tidak untuk sekarang. Maafkan aku, teman. Sekarang aku sangat butuh uang. Aku akan segera mengirimkan ke media cetak. Dan itu tak butuh waktu untuk menunggu lagi. Karena aku benar benar butuh uang.

Kulanjutkan editanku. Kubenahi tanda baca yang salah di sanasini. Kadang aku memicingkan mataku. Kadang aku tersenyum menikmati kata-kataku yang kurasa lucu. “Ah, tulisanku. Semoga kau diterima oleh media cetak. Dan kalau itu terjadi, berarti Tuhan telah mengirimmu menjadi penolongku. Penolong dompetku yang lagi sakit kanker, kantong kering kata temanku.” Batinku berbisik. Mengingat Tuhan dengan semangat menggebu saat menerima kurnianya.

Dan malam ini aku bisa menulis walau sebenarnya otakku sedang buntu. Aku pasti  bisa menulis karena tamu misterius itu. Yang jelas ini juga adalah anugerah Tuhan. Salah satu caranya untuk menolongku. Unutk memberi rezeki padaku. “Ah, Tuhanku selalu banyak cara. Ah, Tuhanku selalu hadir pada hambaNya yang mau berusaha. Oh, Tuhan, terima kasih. Semoga aku selalu bersyukur saat menerima rizkimu. Dan sabar dalam cobaanMu."Amin.”.

Dunia Facebook


Pernahkah  melihat komentar seperti ini di beranda teman?

”aduh, capek banget nih…”
“dia punya yang beru lagi,,,sebel deh..”
”asyikk, hujan turun lagi..”

Itu hanya sebagian contoh dari status para remaja di Facebook. Fktanya, mayoritas pengguna Facebook adalah kalangan remaja. Dan Indonesia termasuk negara yang memiliki akun facebook terbanyak. Jika melihat ini, bisa dipastikan hampir semua remaja di Indonesia mempunyai akun facebook.

Pernah aku bertanya kepada seorang kawan, “kenapa sih kamu bikin fb?”, lalu dia jawab,, “ya, 

kamu ini gimana sih. Kalau gk pnya fb tu kampungan, gk gaul. Semua temenku aja punya.”

Mendengar itu aku jadi berpikir bahwa ternyata banyak remaja kita yang bergabung di facebook hanya karena sedang trend dan diminati banyak orang. Padahal sebenarnya dunia sosial network sudah ada sejak lama. Contohnya seperti friendster dan twitter. Tapi, apa yang membuat facebook yang lahir baru-baru ini populer? Sebenarnya menurutku karena mereka tidak mengenal yang namanya friendster. Mereka hanya tau tentang dunia maya sesudah facebook masuk ke indonesia. Akibatnya, para remaja kita jadi cenderung menjadikan facebook sebagai ajang pamer. Ini lho, aku temannya bnyak, ini lho banyak yg ngelike statusku, ini lho banyak yg komen. Terjadilah Dunia Facebook seperti sekarang ini.

Bahkan tidak jarang yang menjadikan facebook sebagai tempat pelampiasan emosi yang tidak bisa dikeluarkan di dunia nyata. Ini semakin memperparah keadaan. Tahukah anda, bahwa di jejaring sosial seperti friendster, indonesia terkenal dengan pengguna frienster yang ceplas-ceplos. Dalam artian terlalu obsesi dengan friendster dan asal menuliskan status. Tapi yang lebih parah adalah fenomena facebook. Ternyata, hal yang terjadi pada friendster, terjadi pula di facebook, bahkan intensitasnya 2 kali lipat. Wow….

Sosial Network bukanlah ajang curhat, bukanlah diary tempat kita meluapkan semua uneg2. kenapa begitu? Ingat, apa yang anda tulis akan dibaca dan dilihat oleh semua oirang. Jadi sepantasnya berhati-hati dalam menuliskan sesuatu di dunia maya, karena 1 detik setelah anda menulis, orang lain di negara yang berbeda dapat langsung membacanya. Jika memang mau menuliskan uneg-uneg, buatlah Blog Pribadi yang di dalamnya dapat kita isi dengan apapun yang ada dalam pikiran kita. Misalnya seperti Blog ini, Dunia Ilmu. Selain memberi kepuasan bagi diri sendiri, blog juga dapat bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Lihatlah pada kenyataan. Banyak kasus-kasus yang terjadi akibat facebook. Ada kasus penculikan, kasus pertikaian karena pencemaran nama baik di Facebook, dan semacamnya. Itu semua terjadi karena ketidakmampuan dalam menjadikan Facebook sebagai sosial network yang sesungguhnya, yaitu menghubungkan kenalan,mencari orang-orang (kenalan) yang jauh, mencari teman, dll.

Ada kabar bahwa di jepang, hampir tidak ada orang yang memakai identitas asli saat berhubungan dengan dunia maya. Ini mereka lakukan untuk meminimalisir kejahatan melalui dunia maya tersebut. Kita tidak perlu melakukan hal yang sama seperti mereka, namun kita hanya perlu mengubah Mind Set kita tentang Facebook. Okelah, sewaktu-waktu sobat dapat curhat tentang masalah pribadi. Tapi saran saya, surhat-lah kepada orang yang dapat dipercaya di Inbox. Ini agar rahasia sobat terjamin.

Sekiranya cukuplah tulisan yang panjang ini. Ini merupakan pemikiran saya sendiri tentang dunia Facebook yang merajalela. Jika sobat tidak suka atau keberatan dengan opini saya, silahkan sampaikan lewat komentar. Insyaallah saya akan menerima kritikan dan saran dari sobat.

Semoga sobat menyukai artikel kali ini tentang Saya :)

Jumat, 25 Januari 2013

Cuma Gara-Gara BB SmSku Tak Terbalas

Beberapa hari saya dibuat kesal oleh salah seorang teman. Pasalnya setiap kali saya mengirim sms ke dia selalu tidak ada balasan. Selang beberapa hari kemudian saya bertemu dengannya. Langsung saja saya tanya kenapa dia tidak membalas sms ku. Kalian tau apa jawabannya? Eh sory ya , saya gak punya pulsa buat sms, adanya Cuma paket BB. Lalu kenapa dia tidak mengirim BBM saja. Jawabannya sudah jelas donk, karena saya gak punya BB (kampungan yah).




BBM
Saya memang belum mempunyai ketertarikan untuk memiliki BB meskipun kebanyakan teman sudah begitu larut dalam euphoria BBM. Sekarang, kalau ketemu teman lama yg ditanyakan pasti pin BB. Kalau saya punyanya PIN ATM, hehehe. Kenapa saya belum tertarik? Mungkin karena belum dapat panggilan untuk beli BB (kayak naik Haji aja). Yang jelas saya merasa bahwa BB kurang sesuai dg kebutuhan saya karena saya kurang suka dg layar kecil. Saya lebih suka berkomunikasi menggunakan YM ataupun Skype di laptop. Rasana lebih lega.

Balik lagi ke masalah sms yg tak terbalas. Sebenarnya saya juga bukan orang yg suka smsan, tapi kalau ada perlu sama teman biasanya saya mengirim sms. Dulu orang begitu rajin sms karena adanya paket sms maupun sms gratis. Kalau sekarang rasa-rasanya saya sudah jarang mendengar kalimat Yaudah, nanti aku sms kamu saja. Eh pin bbmu berapa, nanti aku BBM kamu saja, kalimat seperti itulah yg sekarang lebih sering terucap. Walhasil, orang-orang yg gak punya BB seperti saya jadi terpinggirkan. Bahkan sekedar mengeluarkan pulsa untuk membalas sms teman saja susahnya minta ampun.
Sebenarnya, ada banyak cara untuk berkomunikasi melalui HP ataupun Ponsel Pintar. Namun entah kenapa BBM seperti menjadi primadona baru bagi kebanyakan orang. Entah mantra apa yg dipakai oleh RIM sehingga para konsumen begitu loyal untuk membeli BB yg harganya cukup fantastis. Mantra apa juga yg membuat konsumen kelas menengah ke bawah juga cenderung menggunakan BBM daripada SMS.
Begituah kira-kira curahan hati seorang yang smsnya tak terbalas karena tak punya BB. Nasib, nasib. Mungkin ada banyak kemudahan yg kita dapat dengan memakai BB, tapi untuk sekarang saya belum tertarik sama sekali dengan yg namanya BB. Itu pendapat saya, bagaimana pendapat anda?

Senin, 21 Januari 2013

"Bertemu Eno’, “Eksodus” Dari Losari"

Gambar Enho & wandy "Ekseudus" dari Losari

Losari, ya, Pantai Losari beberapa tahun silam adalah surga bagi pengamen dan anak jalanan. Namun, sejak penataan oleh Pemkot Makassar dan kapling teramat luas oleh pihak perusahaan swasta, berbagai kegiatan di poros Jalan Penghibur mulai diatur.

Jika dulu, kita bisa menapaki Jalan Penghibur dengan leluasa dan akrab, kini nampaknya suasana itu bagai asap yang keluar dari sebatang rokok. Tiada lagi. Satu persatu pengamen, anak jalanan meninggalkan daerah itu. Hanya kendaraan mewah yang lalu lalang, kegiatan musik jalanan tak ada tempat lagi, bahkan becakpun minggir.
...
Salah satunya, Eno’. Jangan dikira dia perempuan. Lelaki muda dengan tangan kanan buntung ini adalah pemusik kreatif dengan suara, boleh tahan! Dia mesti memasangi ujung tangannya yang cacat dengan plastik pembetot gitar lalu diikat karet.

Bersama empat orang sahabatnya, mereka adalah “eksodus” Losari yang kini mengadu nasib di warung ikan bakar “Tujuh Tujuh”, di Ibu Kota Pangkajene Kepulauan atau Pangkep.

“Tubuhku terguncang, dihempas…kawan, coba dengar apa jawabnya, ketika ia kutanya mengapa” suaranya yang jernih dan iringan melodi gitarnya menawan sekali. Tangan buntungnya bermain lincah di temali gitar. Di sampingnya, berdiri Wandi yang masih belia. Juga, dari Losari.

“Kami sudah empat tahun tinggal di Pangkep. Kami menyewa kost dengan tarif 150ribu perbulan. “Ya, beginilah, cara kami meneruskan bakat” Kata Eno’. Lelaki yang tak lulus SMA.

“Di kelompok kami, terdapat dua anak asal Pangkep. Kami pernah tinggal di Jalan Cendrawasih, Makassar. Saat ngamen di Losari kami biasa mangkal di Kedai 66, kepunyaan Alling yang tinggal di Jalan Kakatua” Kata Eno’ lagi, lelaki berbadan kecil namun gondrong ini.

Saat saya tanya, apa lagi rencana kelompok mereka. Eno’ berujar, “kami akan menuju Pare-Pare dan Polmas, untuk mengamen lagi. Rencananya setelah usai musim hujan”. “Mengapa tidak di sini saja? Kataku. “Selain mengamen, kami ingin punya pengalaman menjajal daerah lain, sekaligus mengenal bagaimana kehidupan di daerah lain” Katanya.

Suara mereka yang elok, permainan musik yang menawan, layak diganjar perhatian dan dukungan oleh kita semua. Kiprah dan ketekunan mereka setidaknya memberi kesan bahwa terdapat banyak pilihan untuk meneruskan hobby, minat dan kehidupan. Itu lebih baik dari pada merampas hak orang lain, bukan?

Selasa, 15 Januari 2013

"Kampanye Sayang Jilid 2 di Pangkep ''Flood'' Jurkamnas"

GAZEBO PANGKEP_Simpatisan tersebut memenuhi sepanjang jalan di Matahari. Panjangnya berkisar Lima kilometer. Barisan tersebut, mulai dari pusat kota Pangkep menuju Lapangan Stadion Andi Mappe Pangkep.

" Kampanye putaran ketiga pasangan calon gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang pada hari kedua, Selasa (15/1/2013) di Kabupaten Pangkep dibanjiri juru kampanye nasional (jurkamnas) dari sejumlah elit partai politik.

Di deretan kursin para jurkamnas diantaranya, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri, dan sejumlah fungsionaris DPP Partai Golkar, seperti Fadel Muhammad, Erwin Aksa, Anggota DPR RI Syamsul Bahrin, Koordinator Wilayah Sulawesi Golkar Nurdin Khalid, Ali Mukhtar Ngabalin dan Teo L Samboaga, mantan Meteri Perumahan Rakyat.

Minggu, 13 Januari 2013

Angin Masih Memhantui Kota Pangkep dan Sekitarnya



Seperti halnya angin, cinta terkadang berhembus terlalu kencang lantas berlari entah kemana.

Angin sore berhembus membuat berpuluh alang-alang di sebuah tanah lapang bergoyang seirama, membuat rambut gadis yang berada di antaranya pun terkibas ke sana ke mari.
Gadis itu meringis, merasakan sebuah rasa bernama ‘sakit’ yang mendalam, sakit akibat sebuah luka. Namun lukanya bukanlah luka yang terlihat, bukan luka yang teraba, melainkan luka dalam sebuah organ kecil di dalam tubuhnya yang biasa disebut hat.