Jumat, 15 Februari 2013
Jumat, 08 Februari 2013
"Kini Pangkep Sudah Berusia Ke 53 Tahun"
PANGKEP_kini sudah berusia 53 tahun pada 8 Februari 2013.Roda pembangunan yang senantiasa berputar mengiringi dinamika kehidupan warganya. Banyak hal yang telah diukir selama ini, menjadikan Pangkep juga mampu berkembang sejajar dengan kabupaten lainnya di Sulsel, bahkan berobsesi maju selangkah membawa misi Pangkep sebagai penghasil produk pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan terbesar di Indonesia tahun 2015.
Pada tahun 2013 ini, Pangkep dibawah kepemimpinan H.Syamsuddin Hamid SE dan Drs.H.Abd.Rahman Assegaf Mi.Kom, juga telah memasuki tahun ketiga dalam mengomandoi nakhoda pemerintahannya. Dengan fokus pembangunan pada pengelolaan sumberdaya alam seperti pertanian, perikanan, perkebunan hingga pertambangan. Kesemuanya diarahkan dapat mengangkat kesejahteraan warganya.
Tahun ketiga pemerintahan Bupati Syamsuddin-Abd.Rahman Assegaf ini selain bertekad akan menjadikan tahun kerja keras, juga berobsesi akan keluar sebagai Daerah Tertinggal dengan mengusung Desa Mandiri. Program Desa Mandiri yang akan diterapkan tahun ini, diharapkan dapat membawa angin segar di berbagai wilayah terutama di desa terpencil untuk dapat lebih maju dan sejajar dengan desa lainnya.
Secara defenisi Desa Mandiri adalah suatu kesatuan wilayah administratif yang terpenuhi kebutuhan dasarnya dan mampu mengelola sumberdaya alamnya bagi peningkatan kesejahteraanya sehingga menjadi lebih maju. Desa Mandiri ini tersebar di setiap kecamatan. Pada setiap kecamatan terdapat 1 Desa Mandiri dengan 2 Desa/kelurahan Penyangga. Tujuan Desa Mandiri diantaranya menguatkan kelembagaan lokal masyarakat desa/kelurahan, meningkatkan sinergitas dan keterpaduan stakeholders dalam mendukung percepatan pembangunan desa/kelurahan, meningkatkan partisipasi, daya kreasi dan inovasi masyarakat dalam mendayagunakan potensi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan desa/kelurahan serta meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian, perkebunan dan perikanan.
Kabupaten Pangkep mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan kabupaten lainnya di Sulsel. Memiliki tiga dimensi wilayah, kepulauan, dataran rendah dan pegunungan. Potensinya wilayah tersebut juga sangat berlimpah seperti di kepulauan terdapat aneka biota laut dan perikanan serta rumput laut dan terumbu karang. Sedangkan di pegunungan terdapat potensi pertambangan, pertanian dan pegunungan. Begitupun dengan wilayah dataran rendah terdapat pertanian, peternakan hingga budidaya pertambakan.
Selama ini, Pangkep mempunyai potensi unggulan di bidang pertanian berupa Padi Lapang dan Jeruk Pamelo dan Jambu Mete, untuk perikanan terdapat ikan bandeng dan udang windu, kepiting rajungan serta rumput laut. Untuk bidang pertambangan, terkenal industri semen dan marmer.
Dengan potensi tersebut, terutama untuk industri telah menyerap ribuan tenaga kerja lokal terutama untuk industri semen dan marmer. Kedua jenis industri tersebut, menjadi lapangan kerja ribuan warga untuk dapat menghidupi keluarganya. Sedangkan untuk sektor lainnya seperti perikanan dan pertanian, meski masih terbatas menggunakan tenaga kerja, namun mampu menjadi tumpuan hidup warga dari hasil pertanian dan perikanannya.
Olehnya itu, Bupati Pangkep, H.Syamsuddin Hamid SE, bertekad akan keluar dari predikat Daerah Tertinggal pada tahun depannya. Alasannya, jika tahun ini, Pemkab akan menjadikan sebagai Tahun Kerja Keras untuk dapat keluar sebagai daerah tertinggal dengan menggarap semua potensi itu dengan maksimal. Jalan menuju ke arah itu memang sudah terbuka lebar. Pemkab Pangkep telah membangun berbagai sarana untuk menunjang perutaran ekonomi lokal. Badan jalan daerah semakin diperlebar ke arah kawasan industri PT Semen Tonasa dan pabrik marmer. Jalur jalan yang dulunya hanya selebar 4 meter kini sudah bertambah menjadi 6 meter. Begitupun ke arah dermaga Maccini Baji sebagai pintu keluar ke weilayah kepulauan, juga diperlebar dari 4 meter menjadi 6 meter. "Semua itu, kita harapkan dapat meningkatkan mobilitas warga untuk menjual hasil produksinya," kata Ir.Sunandar,Kadis PUK, beberapa waktu lalu di Pangkajene. Ia mengatakan, berbagai jalur jalan kabupaten akan ditingkatkan dan diperlebar dengan anggaran APBD setempat.
Selain melengkapi infrastruktur, program lainnya yang mendukung upaya tersebut yaitu Desa Mandiri, dengan fokus menggarap potensi alam di desa. Setiap kecamatan mempunyai satu desa atau keluarahan yang masuk dalam program Desa Mandiri. Di Desa Mandiri tersebut, setiap SKPD tekhnis akan melakukan kegiatan yang sesuai dengan bidang dan potensi desanya. Hal ini, akan terlihat hasilnya pada tahun depan untuk benar-benar keluar dari predikat Daerah Tertinggal.
Jumat, 01 Februari 2013
"Dengan Modal Suara, Aku Bisa Dapat Laptop Baru"
![]() |
| Photo: "Suasana Saat Ngamen Di Sungai pangkep" |
Tapi semakin mendekati akhir SDP, banyak tekanan
ku dapatkan. Dan lebih banyaknya dari keinginan diri sendiri. Aku ingin ini,
aku ingin itu. Dan yang terakhir yang ku ingini adalah sebuah laptop keren.
Miris rasanya melihat kemputer tua di kamar bapakq. Ah, nasib buruk akan
menimpa tugas-tugaku bila aku berkutat dengan Kemputer tua itu. Ku mintakan
pada Mama Papa untuk membeli laptop baru yang baru saja ku tanyakan harganya 6
juta. Dan seperti biasa orangtuaku menggeleng. Aku kecewa dan sangat putus asa.
Kapan yah orangtuaku ini memberikan aku sesuatu yang ku ingini tanpa
berlama-lama aku menunggunya?
Ditambah lagi ternyata berpacaran dengan seorang
anak kaya tidak terlaly membantu. “Ya iyalah”… Yang kaya bapaknya bukan dia.
Aku pun makin kecewa, galau dan selalu merasa minder bila melihat teman-teman
SDP datang ke kampus ”Sekolah Demokrasi Pangkep” membawa laptop yang
bagus-bagus. Sementara aku hanya mengerjakan tugas tulisanku di rumah.
Di tengah kegalauanku ini ternyata banyak malaika
menyapaku untuk terjun ke jalan. Aku bertemu Eko, si penyanyi jalanan. Dia tahu
aku kenapa bermuram, dia memberi aku solusi dan tak jauh-jauh dari profesi yang
dia jalani. Cukup lama aku menimbang-nimbangnya bagaimana yang harus ku
lakukan, namun karena sudah kesengsem sama laptop baru itu, maka aku
mengiyakannya saja.
Aku deg-degan menjalani ini semua, ku pandangi
kedua orangtuaku dan… Ahhhh, sudahlah tak mengapa yang menderita nanti kan aku
bukan mereka. Pokoknya aku mau laptop baru itu.
TITIK! Ku tinggalkan Mama dan Papaku di rumah, ku katakan berangkat ke Sekret padahal ke daerah Pare-pare yang di sana aku sudah janjian bersama Eko dengan Ichal. Maaf Ma, Maaf Pa!
TITIK! Ku tinggalkan Mama dan Papaku di rumah, ku katakan berangkat ke Sekret padahal ke daerah Pare-pare yang di sana aku sudah janjian bersama Eko dengan Ichal. Maaf Ma, Maaf Pa!
Singkat cerita, aku memasuki sebuah warung dan…
Oh, Tuhan aku menitikkan airmata! Ingin rasanya berputar arah dan keluar dari
warung itu. Tapi sudah aku pun masuk saja. Ku lihat ada seorang gadis paruh
baya sedang makan membelakangi aku.
“cewek…”
gadis itu berbalik dan…
“Aduh ternyata cewek Anak anggota DPR!!!”
Aku terperanjat dan ingin berlari saja namun Cewek Itu
tersenyum tanpa risih sedikit pun.
“Kamu lari? Tidak akan ku Sms kamu… ” Katanya tertawa sinis.
Pasrah! Hanya itu dalam hatiku. Ternyata selama ini wanita itu tinggal diPare-pare. Dengan. Ya, Tuhan!!! Ah, sudahlah yang terpenting aku bisa membeli laptop baru walau dengan suara dan gitar yang kumainkan.
Siang itu, Suaraku terganggu akibat aku batu-batu.
Sungguh menyakitkan buatku, walau sebelumnya Eko dengan Ichal sudah membekaliku
sebuah jahet agar tidak terjadi apa-apa. Untungnya ada seorang teman
diPare-pare yang ingin membatuku bernyanyi
di warung goyang lida dekat pantai.
Kesakitan fisikku akhirnya terbayar dengan uang
yang ku dapat dan aku bahagia. Aku menghitung lembar demi lembar. “Ah, Tuhan
ini belum cukup!”, Ya selalu aku bawa nama Tuhan seakan Tuhan merestui ini
semua aku lakukan. Aku betul-betul sangat bodoh!!!
Seminggu berlalu. Ya, seminggu aku meninggalkan gitarku yang tak akan pernah kembali itu. Aku betul-betul sangat sensitif dan selalu ingin marah-marah saja pada semua orang dan terkadang menangis!!! Aku menyesal tetapi ku lakukan lagi dan lagi! Ku lihat nasibku maka aku akan menangis namun ku lihat uang ngamenku aku merasa sangat terbantu untuk tersenyum kembali!
Beberapa teman-teman KPJ dan Eko merasakan perbedaanku. Emosiku sangat tidak stabil! Persetan dengan semua itu yang terpenting aku berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang ku inginkan tidak seperti mereka yang hanya bisa meminta kepada orangtua. Ah, Tuhan pun maklum! Yah, harapanku begitu…
Dalam seminggu ini aku Cuma tinggal diam saja dan
kembali ku perhatikan uangku. Ah, belum cukup sama sekali!!! Aku memutuskan
untuk yang terakhir kalinya kembali ngamen lagi di warung. warung mana pun yang
mau dinyanyikan asalkan berduit, itu saja…
Kembali lagi aku janjian dengan seorang teman dan itu juga melalui perantara ichal. Aku tak mau lagi seperti seminggu yang lalu. Apa lagi yang aku galaukan? Toh, Suaraku memang sudah tidak terganggu lagi!!! Aku malah melompat-lompat kegirangan karena sebentar lagi aku akan memiliki laptop baru… ^_^
Praaaakkkk!!!! Terdengar suara pintu mobil yang mau masuk warung lalu ku buka tas gitarku dengan santainya aku masuk begitu saja. Ternyata orangnya belum ada, aku hanya bisa duduk termenung. Namun sesaat kemudian pintu mobil terbuka lagi, seorang wanita cantik masuk ke dalam warung. Aku tersenyum dan sedikit canggung! Dia melangkah makin melangkah dan terlihat jelas. Dia kan…. Anak anggota DPR!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Selasa, 29 Januari 2013
Saya Punya Laptop Baru
Tepat pukul 01.00 dini hari, hp yang tergeletak di atas meja kecil di sudut kamar berdering. Saya tidak segera menyambarnya. Malas, aku baru saja membaringkan badan untuk istirahat malam, sehabis bergulat dalam diskusi yang membincang fenomena yang ada dipangkep; remaja dan aktifitasnya sehari-hari belakangan ini. Aku membungkus seluruh badan dengan selimut, sambil berharap, hp di sudut kamar itu semoga tidak berdering lagi. Ternyata yang diharapkan tak kunjung kabul. Hp itu kembali berdering. Aku cuekin saja. Akhirnya berhenti sendiri. Selang beberapa menit kemudian berdering lagi. Buyar sudah. Rasa ngantuk menjadi lenyap. Aku bangkit, menyalakan lampu, dan melangkah ke sudut kamar, meraih hp yang masih berdering dan bergetar di atas meja kecil itu.
Ternyata dering pertama adalah pertanda masusknya sms dan dua dering berikutnya adalah pertanda panggilan dari nomor yang tidak kukenali. Memang sudah menjadi kebiasaan bagiku, tidak segera mengangkat hp dari panggilan yang tidak kukenali. Makanya aku tidak terlalu memusingkan dua panngilan yang masuk. Tapi tidak dengan sms. Segera saja aku membuka sms itu dan membaca isinya. Ternyata dari Putri gadis remaja usia 20 tahun, yang beberapa minggu lalu aku kenal di sebuah warung dekat kampusnya. “Kak,…”, saya jeda sejenak membaca sms itu. Aku segera menuju ke depan cermin hendak menggugat kepantasan diri dipanggil kakak oleh remaja belia alias ABG. Kepantasan seperti apa bagiku untuk hal itu? Bukankah usiaku sekarang sudah 29 tahun. Lalu dimana pantasnya aku dipanggil kakak oleh seorang gadis remaja yang masih bau kencur itu, yang seumuran dengan adekq yang satu kampus dengan Putri.
Apakah Putri tidak berpura-pura, hanya untuk sebuah kepentingan. Tapi ah, sudahlah. Masih di depan cermin, aku lanjutkan membaca sms yang masih tersisa. “… saya sungguh sedang dalam situasi terdesak. Apa kakak mau bantu saya? Sejumlah pelajaran di kampus mengharuskan aku punya laptop, tapi orangtua saya hanya pedagang kecil-kecilan, mana mampu membelikan saya laptop. Jika sekiranya kakak, mau membantu meminjami aku uang untuk beli laptop, maka alangkah bersyukurnya aku. Kak, Apapun akan aku pertaruhkan, jika kakak mau membantu”. Rasa-rasanya kalimat yang tertulis dalam sms ini, bukan berasal dari seorang gadis remaja usia KAMPUS. Aku menduga Putri adalah seorang gadis remaja yang pintar. Prihatian. Aku tidak segera mengambil keputusan untuk menyahuti permintaan Putri.
Aku memutar waktu, sejenak kureka ulang dalam benakku awal perkenalanku dengan Putri yang sebenarnya hanya iseng saja. Saat pertama kali berpapasan makan siang di warung dekat Kampusnya. Aku mentraktirnya. Kepadanya aku tanyakan dari kampung mana ia berasal, kelas berapa dan sejumlah pertanyaan iseng lainnya. Seingatku pertanyaan iseng terakhir yang aku lontarkan ke Putri ketika itu adalah apakah ia sudah punya pacar –diam-diam aku menertawakan diri sendiri, dengan kalimat-kalimat picisan kayak gitu– yang dijawabnya dengan kata tidak. Kepolosan yang dikuatkan dengan ekspresi wajah yang menggoda, terutama pancaran tatap mata dan kedipannya seperti diatur sedemikian rupa, seperti penuh berharap, memaksaku untuk percaya bahwa gadis Putri yang parasnya cantik dan tampak natural itu memang tidak punya pacar.
Persis kayak remaja yang baru menjelang masa puber, saat itu aku tukar-tukaran nomor telpon dengan si Putri. Malu rasanya, tapi naluri sebagai laki-laki lebih kuat, mengalahkan tabiat sebagai orang lelaki tua yang mestinya mengayomi anak-anak. Bukankah ia masih sebaya dengan Adek keduaku, yang masih satu Kampus dengannya. Pantasnya ia saya pandang pula sebagai Adek.
.
Minggu, 27 Januari 2013
"Aku Tak Seberuntung Mereka"
Aku
terbangun dari kotor dan dinginnya bawah jembatan ini. Begitu juga dari
suara-suara kendaraan bermotor yang silih berganti. Tapi ini sudah biasa
bagiku. Ketika kubuka mata ini, pikiran dan perutku seakan mengerti.
Saatnya kucari sesuap nasi. Menelusuri rimba rayanya kota, tertatih pada
rintih kaki dan berpeluh pada guritan derita.
Kakiku terus melangkah, sementara
perutku pun terus mendendangkan lagu keroncongnya. Kutilik dibalik rumah
mewah itu. Bahagia sekali, mereka sarapan pagi bersama dengan makanan
telah tersaji diatas meja. Sementara aku?? Berapa kilometer lagi harus
kutempuh?? “Aku tak seberuntung mereka”.
Di teriknya matahari yang seakan ingin membakar kulitku, aku harus mengais rejeki. Di jalanan, di perempatan, di warung-warung, tak peduli betapa teriknya siang ini. Dengan lagu kudendangkan juga dengan tangan menengadah. Pengemis, pengamen, mungkin itu kata yang lebih tepat. Anak jalanan, anak terlantar, apapun kata mereka aku tak peduli. Buat aku yang terpenting adalah bagaimana menyambung nyawaku.
Kutengok di balik gedung itu.
Nyamannya mereka, tidak kepanasan, duduk disana, mendapatkan pendidikan,
mendapatkan teman pula. Inginnya aku bersekolah. Tapi uang dari mana?
Bagaimana bisa? Kalaupun telah ada sekolah gratis, belum tentu yang
lainnya gratis. Kalaupun aku sekolah, bagaimana aku bisa mencari sesuap
nasi? Sekali lagi aku harus berkata, “Aku tak seberuntung mereka”.
Lalu ketika senja tiba. Kutahu hari
kan gelap. Gelap pula harapanku, ku tahu malam ini aku harus tidur di
emperan toko, di kolong langit, bahkan di kolong jembatan. Tanpa peduli
apa yang akan terjadi nanti. Hujankah? Hemmm… hujan? Dinginnya malam
adalah selimutku. Kardus bekas adalah kasurku. Tak ada bantal dan
guling untukku.
Guling dan bantalku telah mati.
Diambil Tuhan, bahkan disaat aku ingin merasakan hangatnya pelukan ibu.
Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan dan dingin yang menusuk kalbu.
Sementara aku disini, anak-anak lain tidur menggunakan kasur, selimut
tebal, bahkan hangatnya pelukan orang tua. Dan untuk kesekian kalinya,
aku harus berkata “Aku tak seberuntung mereka” .
Ibu, ingin ku mengadu. Mereka bilang
aku anak terlantar, mereka bilang aku anak jalan yang tak pantas jadi
teman mereka. Mendekat saja mereka tak mau. Ibu…temanku hanya kepahitan
hidup. Isak tangis kutahan, senyum palsu kuperlihatkan. Ingin kutunjukan
ketegaran pada diriku, meskipun sebenarnya aku rapuh.
Miris… melihat mereka menapaki kepahitan
hidup. Tak ada yang peduli, bahkan menganggapnya jijik. Fakir miskin
dan anak terlantar di pelihara oleh Negara, jelas tertera dalam UUD
1945. Namun, faktanya tidak seperti itu. Mereka dipinggirkan oleh
Negara, bahkan diliriknya saja tidak. Apa pemerintah lupa? Ataukah hanya
berpura-pura?
Anak terlantar (anak jalanan) justru
diperlihara oleh Babeh. Mereka mendapat perlakuan buruk, disodomi,
tempat pelampiasan nafsu seksnya. Kejahatan terhadap anak-anak jalanan
kerap terjadi. Dan pemerintah seakan-akan pura-pura, alih-alih
memelihara anak terlantar, pemerintah malah memelihara para koruptor.
Harapanku untuk Indonesiaku adalah agar
pemerintah benar-benar mencerna dan memahami redaksional dari pasal 34
ayat 1 UUD 45 yang berbunyi “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Agar mereka mendapatkan perlindungan yang lebih baik.
Sabtu, 26 Januari 2013
" AKU PASTI BISA"
Sangat ingin rasa
mempunayi sebuah laptop dan ingin belajar tetang penulisan cerpen, dan ingin
belajar lebih banyak lagi, "ujar" Seorang teman yang pernah diajarkan
dengan teman jurnalis pangkep, tentang penulisan yang benar dan
berbahasa yang baik kesemua orang.selama ini aku hanya bisa menulis dengan
pensil dengan buku Tulis. tapi. Malam ini aku hanya termenung di depan komputer
temanku. Tak seperti biasanya. Biasanya aku datang ke rumah temanku itu hanya
untuk menulis. Selalu berjalan biasa, aku selalu menulis. Menulis cerpen,
terkadang. Merangkai kata menjadi puisi, ini yang sering. Tak lebih. Tapi, kali
ini aku tak bisa. Imajinasiku seakan tumpul. Otakku tak mengalir deras seperti
biasanya. Dan aku hanya termenung. Iya! Begitu saja. Tak lebih. Juga tak kurang. "Aku Pasti Bisa"
Sudah beberapa lama
aku menulis cerita hidup yang aku alami, tetapi aku ragu untuk menerbitkan
cerita tetang hidup ini kemedia. namun ada seorang teman yang pernah mengatakan
tetang rasa keraguan, jangan pernah ragu
untuk dikenal dimedia. kalo memang karya tersendiri kita, kenapa mesti ada
keraguan didalam diri kita. mestinya kita harus berani untuk menulis apa yang
terajdi saat kita ada diluar. "Aku Pasti
Bisa"
Aku pun tak mau
pusing. Aku mengikuti khayalan buntuku. Kalau memang tak ada ide tak apaapa.
Menurutku tak harus marah pada diri yang memang mungkin sedang ingin istirahat.
Sedang tak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk aku dan keinginanku yang
sering kali memforsirnya. Tak mau tahu dengan capeknya. Mengacuhkan waktu istirahatnya
tanpa membuatkan jadwal. "Aku Pasti Bisa"
Tapi harus banyak
dilanjut lagi menulis, istirahat sudah taratur, makanan juga sudah dicicipi.
apa lagi yang kita pikirkan. owh yang aku pikirkan tentang penulisan cerpen cerita hidupku. selama ini yang
aku inginkan hanya jadi penulis yang terbaik di indonesia bukan cuma disulsel
saja saya ingin dikenal, tetapi sampai sabang sampai maroke. "Aku Pasti Bisa"
Aku kembali ke tempat
semula. Depan laptop temanku. Ah, ternyata otakku masih buntu. “Atau aku
nulis kisah orang barusan itu. Orang misterius bin aneh. Mau curhat saja harus
ke orang yang tak dikenalnya. Untung ketemu sama orang seperti saya. Orang yang
sangat mengedepan kepentingan orang lain. Hmm … sombongku kumat lagi”
Kuikuti usul batin
barusan. Jemariku mengetik cepat seperti mentari mencakar kulitkulit permukaan
bumi dengan panasnya. Atau seperti tusukantusukan kukukuku dingin pada musim
dingin yang menembus lapisan bajuku walau tiga “berakhiran” jaket “berbumbu”
bulubulu. Entah bulu apa. Dia tak kelihatan. Juga tak sempat tanya waktu dulu
membelinya di sebuah toko pasar Sentral pangkep.
Tulisanku mengalir
deras. Baru kali ini aku menulis dari kisah nyata. Bagiku, menulis cerpen kisah
nyata itu tak kreatif. Letak kreatifitasnya dimana coba? Hanya menyalin. Tapi,
aku pernah membaca sebuah buku panduan tentang kepenulisan. Dalam buku itu
dipaparkan penulis penulis terkenal sekaligus sebagian kecil tulisannya. Sekali
lagi, dalam buku itu aku temukan penulis terkenal bernama … ah, aku lupa. Dan
yang aku ingat, bahwa dia sering menulis dari kisah nyata yang dirubah menjadi
fiktif. Biasanya yang dia rubah adalah konflik dan setting.
Ya! Biarlah malam ini
aku menulis kisah nyata itu. Akan kuikuti cara penulis terkenal yang kulupakan
namanya itu."Aku Pasti Bisa"
Kini aku sibuk menghapus tulisan yang
baru kutulis itu. Hanya masih dua lembar. Font 12. Dan spasi 1,5. Sebenarnya
ada rasa sayang menelikung. Tapi, biarlah. Bukankah itu hanya salinan. Bukan
hasil imajinasi yang menyerpih di
jalanjalan berdebu. Atau pada angin malam. Atau dalam sepi. Juga dalam tertawa
keramaian di antara goyonan teman teman.
Aku rubah kisah tamuku yang barusan
pulang. Aku menjadikannya fiktif. Terang saja, aku tak benarbenar merubahnya.
Hanya menambahkan. Bukankah dia tadi belum menemukan jalan keluarnya? Nah,
dalam tulisanku itu, aku ceritakan kalau dia sudah menemukan solusi. Dan dia
pun menjadi betah menikmati rumahnya sendiri. Tidak lagi seperti angin yang
menyemilir. Bukan lagi air yang terus mengalir mengikuti kelok sungai.
Dia kukisahkan sebagai burung Camar
yang terbang tinggi, tapi pasti kembali ke pinggir laut yang membiru. Kembali
menikmati hidangan Tuhan yang berserakan di antara pinggiranpinggiran pantai.
Camar itu tersenyum. Sesekali menengadah ke hamparan langit luas yang juga
membiru seperti hamparan laut. Seakan mengabari langit “Di pantai ini aku
mengingatmu. Saat aku bermain denganmu, aku mengenang pantai tempat asalku
mendatangimu.”Aku Pasti Bisa".
Si tamu yang sangat senang menatap
mataku itu kini menikah. Pernikahan itulah yang telah merubahnya. Seakan
mengikat dalam tenang. Karena dia sudah menikmati rumahnya yang berpayung rumah
tangga. Dia tak lagi menangis. Malah senyum terukir manis.
Kini, aku sudah selesai menulis
cerpenku. Aku termenung di depan Laptop temanku itu. Melihat dan mengoreksi
hasil tulisanku itu. Sebenarnya aku salah. Karena menurut temanku yang sudah
jago menulis, “setelah kau selesai menulis, simpan dulu. Harus diinkubasi.
Jangan langsung diedit.” Katanya yang kuikuti dengan anggukan kepalaku yang
seakan patuh.
Biasanya aku memang patuh. Tapi, tidak
untuk sekarang. Maafkan aku, teman. Sekarang aku sangat butuh uang. Aku akan
segera mengirimkan ke media cetak. Dan itu tak butuh waktu untuk menunggu lagi.
Karena aku benar benar butuh uang.
Kulanjutkan editanku. Kubenahi tanda
baca yang salah di sanasini. Kadang aku memicingkan mataku. Kadang aku
tersenyum menikmati kata-kataku yang kurasa lucu. “Ah, tulisanku. Semoga kau
diterima oleh media cetak. Dan kalau itu terjadi, berarti Tuhan telah mengirimmu
menjadi penolongku. Penolong dompetku yang lagi sakit kanker, kantong kering
kata temanku.” Batinku berbisik. Mengingat Tuhan dengan semangat menggebu saat
menerima kurnianya.
Dan malam ini aku bisa menulis walau
sebenarnya otakku sedang buntu. Aku pasti bisa menulis karena tamu misterius itu.
Yang jelas ini juga adalah anugerah Tuhan. Salah satu caranya untuk menolongku.
Unutk memberi rezeki padaku. “Ah, Tuhanku selalu banyak cara. Ah, Tuhanku
selalu hadir pada hambaNya yang mau berusaha. Oh, Tuhan, terima kasih. Semoga
aku selalu bersyukur saat menerima rizkimu. Dan sabar dalam cobaanMu."Amin.”.
Dunia Facebook
Pernahkah melihat komentar
seperti ini di beranda teman?
”aduh, capek banget nih…”
“dia punya yang beru lagi,,,sebel
deh..”
”asyikk, hujan turun lagi..”
”asyikk, hujan turun lagi..”
Itu hanya sebagian contoh dari
status para remaja di Facebook. Fktanya, mayoritas pengguna Facebook adalah
kalangan remaja. Dan Indonesia termasuk negara yang memiliki akun facebook
terbanyak. Jika melihat ini, bisa dipastikan hampir semua remaja di Indonesia
mempunyai akun facebook.
Pernah aku bertanya kepada seorang
kawan, “kenapa sih kamu bikin fb?”, lalu dia jawab,, “ya,
kamu ini gimana sih.
Kalau gk pnya fb tu kampungan, gk gaul. Semua temenku aja punya.”
Mendengar itu aku jadi berpikir
bahwa ternyata banyak remaja kita yang bergabung di facebook hanya karena
sedang trend dan diminati banyak orang. Padahal sebenarnya dunia sosial network sudah ada sejak lama.
Contohnya seperti friendster dan twitter. Tapi, apa yang membuat facebook yang
lahir baru-baru ini populer? Sebenarnya menurutku karena mereka tidak mengenal
yang namanya friendster. Mereka hanya tau tentang dunia maya sesudah facebook
masuk ke indonesia. Akibatnya, para remaja kita jadi cenderung menjadikan
facebook sebagai ajang pamer. Ini lho, aku temannya bnyak, ini lho banyak yg
ngelike statusku, ini lho banyak yg komen. Terjadilah Dunia Facebook
seperti sekarang ini.
Bahkan tidak jarang yang menjadikan
facebook sebagai tempat pelampiasan emosi yang tidak bisa dikeluarkan di dunia
nyata. Ini semakin memperparah keadaan. Tahukah anda, bahwa di jejaring sosial
seperti friendster, indonesia terkenal dengan pengguna frienster yang
ceplas-ceplos. Dalam artian terlalu obsesi dengan friendster dan asal
menuliskan status. Tapi yang lebih parah adalah fenomena facebook. Ternyata, hal yang terjadi pada friendster,
terjadi pula di facebook, bahkan intensitasnya 2 kali lipat. Wow….
Sosial
Network bukanlah ajang curhat, bukanlah
diary tempat kita meluapkan semua uneg2. kenapa begitu? Ingat, apa yang anda
tulis akan dibaca dan dilihat oleh semua oirang. Jadi sepantasnya berhati-hati
dalam menuliskan sesuatu di dunia maya, karena 1 detik setelah anda menulis,
orang lain di negara yang berbeda dapat langsung membacanya. Jika memang mau
menuliskan uneg-uneg, buatlah Blog Pribadi yang di dalamnya dapat kita isi
dengan apapun yang ada dalam pikiran kita. Misalnya seperti Blog ini, Dunia
Ilmu. Selain memberi kepuasan bagi diri sendiri, blog juga dapat bermanfaat
bagi orang lain yang membacanya.
Lihatlah pada kenyataan. Banyak
kasus-kasus yang terjadi akibat facebook. Ada kasus penculikan, kasus
pertikaian karena pencemaran nama baik di Facebook,
dan semacamnya. Itu semua terjadi karena ketidakmampuan dalam menjadikan
Facebook sebagai sosial network yang sesungguhnya, yaitu menghubungkan
kenalan,mencari orang-orang (kenalan) yang jauh, mencari teman, dll.
Ada kabar bahwa di jepang, hampir
tidak ada orang yang memakai identitas asli saat berhubungan dengan dunia maya.
Ini mereka lakukan untuk meminimalisir kejahatan melalui dunia maya tersebut.
Kita tidak perlu melakukan hal yang sama seperti mereka, namun kita hanya perlu
mengubah Mind Set kita tentang Facebook. Okelah, sewaktu-waktu sobat dapat
curhat tentang masalah pribadi. Tapi saran saya, surhat-lah kepada orang yang
dapat dipercaya di Inbox. Ini agar rahasia sobat terjamin.
Sekiranya cukuplah tulisan yang
panjang ini. Ini merupakan pemikiran saya sendiri tentang dunia Facebook yang merajalela. Jika sobat tidak suka atau
keberatan dengan opini saya, silahkan sampaikan lewat komentar. Insyaallah saya
akan menerima kritikan dan saran dari sobat.
Semoga sobat menyukai artikel kali
ini tentang Saya :)
Langganan:
Postingan (Atom)



